Semarang

Kota yang tetap mempertahankan budaya heterogennya, rasakan sentuhan harmonisasi budaya Jawa bersama budaya China, Arab dan Belanda.

Kota Semarang adalah ibu kota dari Provinsi Jawa Tengah, Indonesia sekaligus juga menjadi kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia sesudah kota-kota besar lainnya yakni Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan. Menjadi salah satu kota yang paling berkembang di Pulau Jawa menjadikan Kota Semarang layaknya sebuah kawasan elite dengan ketertiban dan keasrian areanya. Beberapa Gedung pencakar langit yang berada di sudut-sudut perkotaan juga menjadikan ciri khas khusus di kota metropolitan yang nyaman ini. Tentu disadari, hampir semua kota-kota besar di Indonesia memiliki panggilan atau julukan yang unik, begitu juga dengan Kota Semarang. Salah satu julukan yang kini masih melekat adalah selain ‘Kota Lumpia’ juga sering disebut ‘Venetië van Java’. Asal usul dari panggilan tersebut berawal dari banyaknya sungai di tengah kota seperti di Venesia (Italia), sehingga pada jaman dahulu Belanda menyebut Semarang sebagai Venetië van Java atau juga dikenal dengan Venesianya Pulau Jawa. Adapun sebutan lain yakni “Kota Lumpia” karena memang jajanan lumpia menjadi makanan khas Kota Semarang, “Kota Atlas” dikarenakan Aman, Tertib, Lancar, Asri dan Sehat, julukan Kota Atlas juga menjadi sebagai slogan pemeliharaan keindahan kota. Selanjutnya “The Port of Java” yang menjadi slogan pariwisata Semarang dimana sebagai upaya pencitraan sebagai pusat Pelabuhan Jawa dan yang terakhir “Semarang Pesona Asia” dengan konsekuensi pembersihan dan pembangunan dimana mana, mulai dari perbaikan saluran, jalan, trotoar, taman, penataan pkl, dan pelestarian lingungan di tengah perkotaan.

Terletak di kawasan Jawa Tengah, kota ini berada di titik dataran rendah sekitar 4 kilometer dari garis pantai. Posisi geografis, Kota Semarang masuk dalam koridor pembangunan Jawa Tengah dan menjadi simpul empat pintu gerbang, yakni yang pertama koridor pantai Utara, koridor Selatan yang mengarah ke arah kota-kota dinamis seperti Kabupaten Magelang, daerah Surakarta yang menjadi koridor Merapi-Merbabu, kemudian koridor Timur ke arah Kabupaten Demak (Grobogan) dan terakhir arah Barat yang menuju ke Kabupaten Kendal. Letaknya yang strategis membuat Kota Semarang memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan ditandai banyaknya gedung-gedung tinggi berdiri mulai dari hotel, apartemen, perkantoran dan objek wisata yang tersebar luas di Kota Atlas ini. Kota yang terdiri atas 16 kecamatan dan 177 kelurahan ini umumnya dihuni oleh penduduk bermayoritas suku Jawa dan Bahasa Jawa sebagai bahasa keseharian. Seperti di daerah lainnya di Pulau Jawa terutama di Jawa Tengah, Kota Semarang memiliki komunitas Tionghoa yang cukup besar di lingkungan bermasyarakat dan sudah lama berbaur erat dengan penduduk setempat menggunakan Bahasa Jawa dalam berkomunikasi sejak ratusan tahun silam. Dari segi pariwisata, Kota Semarang juga memiliki beberapa destinasi wisata pilihan mulai dari wisata alam (Pulau Tirangcawang, Pantai Tirang, Pantai Marina, Pantai Maron, Goa Kreo dll), wisata sejarah (Lawang Sewu, Museum MURI, Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah, Museum Jawa Tengah, Museum Mandala Bhakti, Tugu Muda, Candi Tugu, dll), wisata keluarga (Wonderia, Kebun Binatang Mangkang, Taman Mini Jawa Tengah (Maerokoco)), wisata belanja (Pasar Johar, Citra Land Mall, Java Mall, Paragon Mall, Sri Ratu, DP Mall, M-Art Shop, dll) dan masih banyak lokasi lainnya. Beberapa perayaan dan event tahunan juga turut memeriahkan kota ini diantaranya Dugderan, Semarang Expo, Semarang Fashion Festival, Semarang Fashion On The Street, dan Festival Kota Lama Semarang.

Geografi

Dataran rendah yang dimiliki oleh kota Semarang sangatlah sempit yaitu kira-kira 4 km diukur dari garis pantai. Dataran rendah dikawasan ini disebut dengan “kota bawah”. Oleh karena itu sering pula daeran ini disebut dengan kota banjir karena seringnya dilanda oleh banjir. Banjir ini disebabkan oleh luapan air laut. Dibagian selatan terhampar dataran tinggi yang disebut dengan “kota atas” yang meliputi Mijen, Candi, Tembalang, Gunungpati dan Banyumanik. Pusat pertumbuhan yang terjadi di Semarang sebagai pusat dari kegiatan dan aglomerasi masyarakat yang muncul menjadi kota kecil yang baru seperti yang terjadi di Semarang bagian atas atas tumbuh dan berkembangnya daerah Banyuanik sebagai pusat dari aktifitas dan aglomerasi para penduduk yang berdomisili di Semarang atas tersebut sehingga daerah bagian atas itupun cukup padat.

Penduduk

Penduduk yang menjadi komunitas dari masyarakat Semarang terdiri dari suku Jawa yang menggunakan bahasa Jawa dalam komunikasi sehari-harinya. Sedangkan agama yang mayoritas dianut adalah Islam. Komunitas besar lainnya disana adalah Tionghoa yang juga telah berbaur dengan masyarakat setempat dan menguasai komunikasi dengan menggunakan bahasa Jawa.

Iklim

Daerah Semarang ini memiliki iklim tropis dengan signifikan yang ditunjkkan dari curah hujan yang menandainya. Suhu rata-tara tahunannya yaitu 26.70 C, sedangkan curah hujannya mencapai 2182 mm.

Topografi

Topografi daerah Semarang ini dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelombok, diantaranya adalah:

  1. Dataran dengan kemiringan antara 0-2% dan luas 169 Ha
  2. Daerah bergelombang dengan kemiringan 2-15% dan luas 57.659 Ha
  3. Daerah curam dengan kemiringan antara 15-40% dan luas 21.725 Ha
  4. Daerah sangat curam dengan kemiringan >40% dan luas 9.467, 674 Ha
Demografi

Kepadatan pari penduduk yang tersebar dipemukian pusat kotanya adalah Ungaran dan sepanjang koridor antara Semarang sampai Bawean maupun daerah yang berbatasan langsung dengan kota Salatiga dan kota Semarang. Sedangkan wilayah Bancak dan wilayah lain yang berada jauh dari pusat kota hanya memiliki sedikit sekali kepadatan penduduk.

Information

Find More  

Directory

Find More