Di Puncak Lembah Ramma, Dolaners Akan Tersadar Bahwa Tuhan Maha Segalanya

Sulawesi Selatan merupakan satu dari sekian banyak wilayah di Indonesia yang menyimpan pesona keindahan alam luar biasa. Hamparan alam tanah Sulawesi yang masing terjaga secara alami menjadi keistimewaan tersendiri bagi wilayah yang satu ini. Sejauh mata memandang, warna hijau yang menyegarkan mata yang terlihat, pepohonan rindang dan rerumputan hijau yang tumbuh seperti karpet adalah gambaran sederhana dari alam Sulawesi Selatan. Tak hanya satu dua, Sulawesi Selatan memiliki banyak tempat wisata yang keindahannya sangat menarik untuk ditelisik. Salah satu tempat yang saat ini sedang naik daun berkat kemunculannya di media sosial adalah Lembah Ramma. Penasaran apa saja keistimewaan tempat wisata yang satu ini? Ini dia jawabannya.

Ini dia si ‘artis’ baru bernama Lembah Ramma yang sedang menjadi buruan

Puncak Lembah Ramma Puncak Lembah Ramma - Dolan Dolen

Puncak Lembah Ramma via ardiyanta.com

Lembah Ramma merupakan sebuah lembah hijau yang terletak di kaki Gunung Bawakaraeng. Berlokasi di wilayah Sulawesi Selatan, wisata alam yang satu ini tentu saja sudah tidak diragukan lagi keindahannya. Sebelum sampai ke lokasi utama, Dolaners akan melewati sebuah spot bernama Puncak Tallung yang keindahannya sungguh aduhai. Terlihat pula Pegunungan Bawakaraeng Lompobattang beserta rumah Tata Mandong. Sejauh mata memandang yang ada hanya keindahan, udara yang sejuk bahkan menjadi salah satu hal yang akan Dolaners dapatkan ketika berada di Lembah Ramma. Sungguh satu paket keindahan yang tak akan pernah bisa Dolaners dapatkan ketika berada di kota kota besar yang sibuk dan penuh polusi.

 

Dan Untuk mencapai lokasi sang Ramma, diperlukan stamina yang oke

Perjalanan Lembah Ramma Perjalanan Lembah Ramma - Dolan Dolen

Perjalanan Lembah Ramma via ariefungu.wordpress.com

Meski bernama lembah, namun bukan berarti untuk mencapainya dapat dilakukan dengan mudah tanpa perjuangan. Justru untuk menuju lokasi Lembah Ramma, Dolaners harus memempuh perjalanan naik turun bukit dan menyebrangi empat aliran sungai. Dengan waktu tempuh tiga hingga empat jam. Kalau boleh dikatakan ini adalah versi mini dari Danau Segara Anak Rinjani dimana Dolaners harus melewati tujuh bukit penyesalan dan puncak kemudian turun ke danau. Selama di perjalan menuju Lembah Ramma, Dolaners akan dimanjakan dengan sensasi alam yang menyejukkan. Angin bertiup sepoi sepoi, suara gemericik air terdengar samar samar di telinga, beradu dengan suara kicauan burung yang saling bersahutan. Namun, Dolaners harus tetap berhati hati agar tidak terpeleset karena jalurnya yang curam dan lutut yang menjadi tumpuan utama cukup licin.

 

Sambutan penduduk lokal yang ramah, membuat Dolaners se-rasa di rumah sendiri

Bertandang ke tempat yang sebelumnya belum pernah Dolaners kunjungi memang harus lebih menjaga tingkah laku selama menuju ke Lembah Ramma. Bertegur sapa kepada penduduk lokal merupakan salah satu hal yang wajib Dolaners lakukan ketika melakukan sebuah perjalanan. Bersikap ramah tidak memiliki kerugian, justru mendatangkan keuntungan. Melalui sikap ramah yang ditunjukkan, secara tidak langsung terbentuk sebuah rasa kekeluargaan. Dimana rasa kekeluargaan itu akan menjadikan perjalanan terasa lebih bermakna dan menjadi salah satu alasan untuk berkunjung kembali. Dan tentu saja keramahn Dolaners juga akan disambut hangat oleh penduduk lokal yang memang sangat welcome dengan kedatangan setiap wisatawan. Hal inilah yang membuat Dolaners akan merasa betah berlama lama berada di Lembah Ramma ini, layaknya sedang berada di rumah sendiri.

 

Bencana tahun 2004 meninggalkan luka tak terobati

Tahukah Dolaners, bahwa alam seindah Lembah Ramma ini ternyata pernah mengalami kejadian bencana alam yang cukup dahsyat. Ya, pada tahun 2004, kawasan Gunung Bawakaraeng pernah mengalami peristiwa tanah longsor. Bekas bekas longsoran Gunung Bawakaraeng masih terlihat sampai sekarang. Ia seperti luka berwarna coklat yang mengelupas di permukaan gunung yang hijau. Melihatnya saja Dolaners akan dibuat merinding apalagi membayangkan kejadian longsor yang pernah terjadi. Bencana longsor tersebut merenggut sekitar 30 orang korban meninggal dan puluhan yang luka luka. Untuk mendengarkan cerita lebih jelasnya, Dolaners bisa bertanya kepada masyarakat sekitar. Dijamin mereka dengan senang hati akan membagi pengalaman tak terlupakan tersebut.

 

Tata Mandong, sang penjaga Bawakaraeng akan menjadi guide Dolaners selama di Lembah Ramma

Tata Mandong Bawakaraeng Tata Mandong Bawakaraeng - Dolan Dolen

Tata Mandong Bawakaraeng via kamiwier.blogspot.co.id

Dan sampai di Lembah Ramma, Dolaners akan bertemu dengan Tata Mandong, seorang penjaga dari kawasan Bawakaraeng. Sejak istrinya meninggal dunia, Tata Mandong tinggal sendiri di tengah Lembah Ramma ini. Beliau bekerja dengan sepenuh hati menjaga kondisi hutan Gunung Bawakaraeng. Di balik kesederhanaan sosok Tata Mandong, ada sebuah kekuatan luar biasa. Ia berusaha menjaga keseimbangan alam dengan segenap tenaga dan harta yang dimiliki. Tata Mandong yang sederhana, yang selalu ramah, tak pernah menegaskan dirinya dengan label pencinta alam. Sebab bukan pujian yang ia harapkan. Perbuatannya didasari oleh cinta sejati kepada alam. Lalu bagaimana dengan Dolaners yang mengaku pecinta alam namun tetap membuang sampah sembarangan?

 

GALERI FOTO PUNCAK LEMBAH RAMMA

dolandolen

Dolaners

Situs terlengkap dan terupdate untuk berbagi informasi mulai dari acara, belanja, kuliner, pariwisata dan penginapan di seluruh Nusantara.