Inilah Huta Siallagan di Samosir, Perkampungan dengan Tradisi Kanibal

Batak, memang sudah lama dikenal sebagai salah satu wilayah yang menyimpan keindahan wisata. Bahkan tak hanya dari dalam negeri, wisatawan mancanegara pun menyetujui tentang keindahan Tanah Batak ini. Tentang Pulau Samosirnya yang cantik dan berada tepat di tengah Danau Toba, dan masih banyak wisata alam lainnya yang patut untuk Dolaners eksplore. Tak hanya soal tempat wisata saja, Tanah Batak juga dikenal memiliki kebudayaan beragam yang masih kental hingga sekarang. Bahkan tak sedikit yang masih dilaksanakan hingga era modern seperti saat ini. Dan ada sebuah tradisi yang tak banyak Dolaners tau tentang sebuah lokasi yang ada di Tanah Batak ini. Sebuah lokasi tersebut bernama Huta Siallagan. Apa saja yang tersimpan di dalamnya? Simak penjelasan berikut ini ya.

Ini dia Huta Siallagan, latar nyata tentang cerita kanibal di Tanah Batak

Huta Siallagan Huta Siallagan - Dolan Dolen

Huta Siallagan via borukaro.com

Kanibal. Ya, kata tersebut terlihat sangat seram. Mungkin jika mendengar tentang cerita kanibal, Dolaners tidak akan percaya bahwa dahulu di Tanah Batak pernah terjadi hal tersebut. Karena memang rasanya itu mustahil, mengenal orang orang berdarah batak disekitar kita sekarang sangat ramah. Awalnya, mungkin Dolaners mengira hanya sebatas ungkapan karena nada suara orang Batak yang terkenal kuat dan terkesan marah seperti ingin makan orang, namun ternyata bukan. Cerita ini benar adanya pernah terjadi di sebuah wilayah bernama Huta Siallagan Samosir. Makan orang yang dimaksud adalah kanibalisme, manusia memakan manusia dalam artian yang sebenarnya. Meskipun kini tradisi tersebut memang sudah lama hilang, namun ada yang belum hilang dari sejarah kanibalisme ini. Yaitu perkampungan Huta Siallagan yang masih eksis memelihara cerita dan peninggalan yang menyatakan kebenaran akan memoar Marco Polo dan para Missionaris.

 

Perjalanan panjang akan Dolaners lalui sebelum menginjakkan kaki di Perkampungan Kanibal

Dari pusat kota Medan, Dolaners bisa menuju ke Parapat, salah satu pintu gerbang Danau Toba yang biasa ditempuh sekitar 4 hingga 6 jam perjalanan. Tiba di Danau Toba, Dolaners melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kapal boat yang memang menjadi transportasi bagi wisatawan, Dolaners akan diajak menuju ke Desa Ambarita. Nama Desa Ambarita memang kalah tersohornya dari Desa Tomok yang jadi pusat wisata budaya dan belanja yang ada di tanah Samosir. Beruntunglah Dolaners jika masuk ke dalam rombongan tour karena penumpang yang turun di dermaga ini kebanyakan memang rombongan tour, karena kapal jarang ada yang membawa penumpang reguler ke desa ini. Jadi jika tidak bersama rombongan, Dolaners bisa turun di Tomok, kemudian menyewa sepeda motor atau sepeda menuju Ambarita melalui jalur darat. Sekitar 40-50 menit sudah bisa masuk kampung kanibal. Sampai di dermaga, Huta Siallagan Samosir belum akan kelihatan. Dolaners masih harus berjalan kaki sekitar 100 meter ke dalam gang hingga bertemu dengan tembok setinggi 2 meter yang mengelilingi sebuah wilayah. Dan disini lah Huta Siallagan Kampung Kanibal itu berada.

 

Tarian khas Batak akan menyambut kedatangan Dolaners

Patung Si Gale-Gale Patung Si Gale Gale - Dolan Dolen

Patung Si Gale-Gale via jojorlamrias.blogspot.co.id

Begitu melewati pintu gerbang Huta Siallagan yang hanya bisa dilewati maximal 2 orang, Dolaners akan disambut dengan pemandangan 8 rumah berjajar rapi yang memang pintu gerbang tersebut langsung menuju ke halaman rumah rumah Bolon ini. Bagi Dolaners yang datang berkelompok, biasanya sebelum menuju tempat eksekusi akan diajak menari bersama patung menari Si Gale-Gale. Tiga hingga empat tarian dimainkan dengan dipandu oleh dua orang guide dan satu pemain musik, suara khas gondang batak akan terdengar oleh seisi kampung Huta Siallagan hingga diteriakkan Horas! Horas! Horas pertanda berakhirnya tarian. Di tengah pertunjukan, Dolaners juga bisa lho menyawer sang penari (hehe). Dan setelah selesai penyambutan, mata Dolaners akan tertuju pada salah satu rumah di Huta Siallagan, yang di depannya terdapat batu berbentuk meja dan kursi yang disusun melingkar. Dan kursi tersebut adalah Batu Persidangan Huta Siallagan. Dari sini Dolaners akan dipandu oleh guide menuju ke tempat duduk panjang yang dibuat khusus untuk tamu yang mau tahu sejarah kampung ini.

 

Cerita tentang Hukum Kanibal di Huta Siallagan bisa jadi membuat bulu kuduk bergidik

Tempat Pemasungan Huta Siallagan Tempat Pemasungan Huta Siallagan - Dolan Dolen

Tempat Pemasungan Huta Siallagan via horastourism.wordpress.com

Ini lah Huta Siallagan Samosir, perkapungan yang terkenal dengan tradisi kanibalnya. Namun, raja dan masyarakat Huta Siallagan tak asal makan manusia kalau lapar, manusia yang dimakanpun ada alasannya. Yaitu terdapat hukum adat yang jatuh pada seseorang yang melakukan tindak kejahatan seperti pemerkosa, penghianat, serta musuh. Nasib sang terdakwa yang diketahui melakukan salah satu kejahatan seperti yang telah disebutkan tadi, akan didiskusikan di batu persidangan. Sejauh mana kesalahan akan ditentukan di meja dan kursi yang melingkar ini. Ada dua jenis hukuman yang mungkin terjadi untuk masyarakat Huta Siallagan Samosir, yaitu hukum pasung atau hukum pancung.

Dalam persidangan biasanya raja dan petinggi lainnya mencari hari baik untuk mengeksekusi berdasarkan kalender batak. Jika persidangan telah diputuskan, maka hukuman menanti. Untuk yang diputuskan dipancung, sambil menunggu hari eksekusi tiba, mula mula terdakwa akan dipasung terlebih dahulu di salah satu rumah bolon yang ada. Dan ketika hari eksekusi tiba, terdakwa akan dipindah tempatkan menuju lokasi eksekusi. Selanjutnya, terdakwa akan digiring menuju ke lokasi eksekusi. Di sana sudah ada meja meja dan kursi. Meja meja batu tersebut menjadi tempat penyiksaan hingga pemenggalan kepala.

Pertama tama, terdakwa akan disiksa dengan cara dipukul kepalanya, dan disayat kulitnya. Jika tidak berdarah atau tidak mati, itu pertanda bahwa terdakwa memiliki ilmu. Ilmu ini harus dihilangkan terlebih dahulu menggunakan jeruk nipis. Caranya dengan jeruk nipis tersebut ditetesi di tubuh yang telah disayat. Tahap selanjutnya adalah pemenggalan kepala. Di tempat yang telah disiapkan, terdakwa dipenggal kepalanya oleh algojo. Di sini, harga diri algojo pun dipertaruhkan, akan semakin meningkat kemansyurannya jika ia berhasil memisahkan kepala dan badan terdakwa dengan sekali tebas di Batu Persidangan Huta Siallagan.

Lalu bagaimana nasib tubuh dan kepala yang telah terpisah? Kepala tersebut akan digantung di depan desa agar musuh atau warga tahu akan adanya eksekusi ini. Hal ini tentu akan membuat orang yang melihatnya menjadi takut. Tubuhnya akan dipotong menjadi beberapa bagian untuk dimasak dan dimakan bersama sama. Sementara bagian organ dalam akan dimakan oleh raja. Nah, masyarakat Huta Siallagan di Samosir percaya bahwa dengan memakan bagian tubuh tersebut, ilmu yang dimiliki oleh terdakwa akan pindah ke tubuh orang yang memakannya. Dan hingga kini, barang barang bersejarah tentang tradisi kanibal warga Huta Siallagan Samosir tersebut masih ada dan terawat. Hiii…. merinding juga ya bayanginnya. Apa Dolaners tertarik untuk meng-explore perkampungan Huta Siallagan ini?

dolandolen

Dolaners

Situs terlengkap dan terupdate untuk berbagi informasi mulai dari acara, belanja, kuliner, pariwisata dan penginapan di seluruh Nusantara.