Pulau Bungin, Pulau Terpadat Indonesia yang Dikenal Dunia

Keindahan Indonesia memang sudah tidak bisa dianggap sepele lagi. Negara dengan julukan Kepulauan ini memang seperti memiliki anugerah tersendiri yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Tersusun dari jutaan ribu pulau, Indonesia terangkai dalam satu kesatuan bernama Nusantara. Dari Sabang sampai Marauke, saking banyaknya pulau yang dimiliki, tak semua pulau di Indonesia berpenghuni. Bahkan dalam beberapa kasus, nyaris saja kita ‘kecolongan’ pulau yang sempat ingin di klaim tetangga. Namun dibalik itu semua, ternyata Indonesia juga memiliki sebuah keistimewaan. Yakni di sini, di tanah Nusantara kita, terdapat sebuah pulau yang dinobatkan sebagai pulau terpadat di dunia. Bernama Pulau Bungin. Mau tau gimana bentuknya pulau terpadat di dunia ini? Simak penjelasan berikut ini ya!

Coba buka peta-mu, banyak cara yang bisa Dolaners lewati untuk menuju Pulau Bungin

Pulau Bungin Pulau Bungin - Dolan Dolen

Pulau Bungin via travelingyuk.com

Pulau terpada di dunia, ya sebutan ini memang pantas disandangkan kepada Pulau Bungin. Pulau yang satu ini terletak di Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat, atau tepatnya berada di teluk Alas, Kecamatan Alas. Dari kota Sumbawa Besar, Pulau Bungin berjarak sekitar 70 kilometer ke arah barat. Banyak cara untuk menuju pulau terpadat di dunia ini. Kini sudah tersedia akses jalan darat yang bisa Dolaners tempuh dengan waktu sekitar 90 menit perjalanan dari Kota Sumbawa Besar. Untuk Dolaners yang menggunakan transportasi umum, juga bisa menggunkan jasa ojek, cidomo (angkutan umum Sumbawa) atau lewat jalur laut dengan menggunakan transportasi perahu motor. Konon, menurut legenda masyarakat setempat, Pulau Bungin ini kali pertama ditemukan oleh salah seorang anak Raja Selayar bernama Palema Mayu. Palema datang ke Sumbawa beberapa saat sebelum Gunung Tambora meletus, pada tahun 1812 silam. Dahulu sebelum sepadat sekarang, Bungin hanyalah berisi pasir putih dan pohon bakau.

 

Sekitar 3.400 orang akan menyambut kedatangan Dolaners di Pulau Bungin, banyak banget!

Penduduk Pulau Bungin Penduduk Pulau Bungin - Dolan Dolen

Penduduk Pulau Bungin via kampung-media.com

Begitu perahu motor yang mengantar Dolaners hampir sampai di Pulau Bungin Sumbawa, jangan kaget jika pulau yang satu ini tidak memiliki garis pantai. Ya, hal ini bisa terjadi karena memang hampir semua lahan di Pulau Bungin ini dibangun rumah rumah warga. Untuk akses jalannya sendiri hanya sekitar 1,25 meter. Nyaris sudah tak ada lahan kosong di pulau ini. Halaman pun hanya ada dua, di sekolah dasar yang ada disini. Itu pun tidak cukup untuk menampung anak anak yan bermain. Total ada sekitar 3.400 jiwa yang mendiami pulau seluas 8,5 hektare ini. Uniknya, setiap tahun pulau ini bisa bertambah luas. Hal ini karena setiap orang yang menikah di Pulau Bungin Sumbawa, mau tidak mau diharuskan membangun rumah dengan mengeruk pasir dan karang mati dari laut. Membangun sebuah rumah panggung khas Suku Bajo di tepian pantai. Waw, unik juga ya? (hehe)

 

Suku Bajo, satu satunya suku yang mendiami Pulau kecil bernama Bungin ini

Di Pulau Bungin ini, hanya ada satu suku yang mendiami. Dia adalah Suku Bajo, para pengembara dan pelaut yang terkenal tangguh di Seluruh Nusantara. Dengan sebutan lain, seperti ‘Sama Bajau’, ‘Orang Laut’, ‘Gipsi Laut’, suku yang belum diketahui asal usulnya ini memang merupakan pengembara paling hebat se-Nusantara. Bahkan, kini penyebarannya telah mencapai Pulau Kalimantan, Nusa Tenggara, hingga Filipina bagian selatan. Dan Pulau Bungin NTB seolah dipilih sebagai pemberhentian mereka untuk meregenerasi silsilah Suku Bajo. Hingga saat ini masih belum ada catatan pasti yang membuktikan asal usul Suku Bajo. Namun ada sebuah isu yang berkembang, bahwa Suku Malagasi (Madagaskar) masih ada hubungannya dengan suku pelaut Nusantara tersebut. Entah, benar atau tidak.

 

Kebudayaan dan kepercayaan unik Pulau Bungin, dari Upacara Adat Toyah hingga tradisi untuk tidak berhijrah (tempat tinggal)

Urug Laut Pulau Bungin Urug Laut Pulau Bungin - Dolan Dolen

Urug Laut Pulau Bungin via lifeonlombok.wordpress.com

Upacara Adat Toyah merupakan sebuah upacara pemanjatan doa untuk keselamatan hidup sang anak ketika dewasa kelak. Sejak kecil, bahkan ketika baru lahir, anak anak suku Bajo sudah dikenalkan pada dunia bahari lewat Upacara Toyah. Pada upacara ini, akan ada tujuh wanita yang memangku si bayi secara bergantian di atas ayunan yang terayun. Maksudnya, ayunan tersebut merupakan symbol akan gelombang lautan yang kelak akan dihadapi sang anak ketika dewasa nanti. Dalam ritual upacara ini, juga tak lupa doa doa terus dipanjatkan demi keselamatan dan kemakmuran sang anak.

Selain kebudayaan unik seperti Upacara Toyah, Suku Bajo juga memiliki tradisi untuk tidak merantau layaknya masyarakat lain. Suku Bajo yang telah menduduki Pulau Bungin seolah tak akan pernah cocok dan betah untuk tinggal di tempat lain selain Bungin. Diceritakan bahwa, pernah beberapa warga yang telah menikah, mencoba merantau meninggalkan Pulau Bungin, Sumbawa. Namun, tak lama setelah kepindahannya, mereka menjadi sakit sakitan. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali dan membangun rumah di Pulau Bungin. Dan satu lagi hal unik dari masyarakat Pulau Bungin ini, yakni setiap orang yang menikah, sang suami harus menguruk tanah dan karang mati dari tengah laut untuk membangun rumah di sisa lahan atau tepi pantai, atau bisa disebut dengan istilah reklamasi. Tak ada batasan seberapa luas rumah yang harus didirikan, tergantung seberapa kuat dan mampu dia mengumpulkan bahan bahan bangunan unruk membangun rumah tersebut.

 

Kepadatan penduduk Pulau Bungin-lah yang justru menjadi keistimewaan untuk menarik magnet para wisatawan

Padatnya Pulau Bungin Padatnya Pulau Bungin - Dolan Dolen

Padatnya Pulau Bungin via ksmtour.com

Meski terdengar sangat padat dan berlahan sempit, namun Dolaners jangan salah, setiap akhir pekan terutama ketika liburan tiba, Pulau Bungin  di Nusa Tenggara Barat ini selalu ramai diserbu para wisatawan. Tak hanya dari dalam negeri, bahkan wisatwan mancanegara pun turut dibuat bertanya tanya dengan pulau terpadat di dunia ini. Kebanyakan dari mereka penasaran dan tertarik untuk mengunjungi Pulau Bungin ini karena keunikan dan kebudayaan serta tradisinya yang masih dipercaya dan terus dilakukan hingga di era modern seperti saat ini. Gimana Dolaners pasti sudah tak sabar kan mau menginjakkan kaki di Pulau Bungin ini? Jadi kapan nih kita berangkat? (hehe)

dolandolen

Dolaners

Situs terlengkap dan terupdate untuk berbagi informasi mulai dari acara, belanja, kuliner, pariwisata dan penginapan di seluruh Nusantara.