Kembang Jepun Surabaya

838 views

Surabaya adalah kota yang merekam cerita dan sejarahnya dalam setiap denyut kehidupan sehari-harinya. Goresan cerita berpuluh-puluh tahun juga tampak pada bangunan-bangunan kuno yang tersebar di kota ini. Jadi ke mana Dolaners musti merangkum seluruh cerita yang panjang ini? Ada satu lokasi yang kaya dengan budaya, kehidupan, dan tentunya, makanan. Kembang Jepun. Dolaners bisa datang disiang hari, tapi akan tetap terpukau dengan perbedaan tampilannya disaat malam. Seperti apa kawasan ini?

Kembang Jepun, Kembang Jepun Surabaya, Surabaya, Kota Surabaya, Dolan Dolen, Dolaners

photo via Mochammad Miftah

Kawasan Kembang Jepun di Surabaya mencakup sebuah area dan jalan yang panjangnya tak sampai 1km. Kehidupan sepanjang jalan ini telah ada dan berkembang cukup lama, sibuk dan padat dengan kegiatan perdagangan disiang hari. Di malam hari, jalan yang lebarnya 20m ini penuh dengan penjual berbagai macam makanan. Pemandangan yang jauh berbeda disiang dan malam hari ini menjadi daya tarik wisatawan sepanjang waktu. Mungkin Dolaners bisa merasakannya juga saat sampai di Kembang Jepun.

Jalan Kembang Jepun posisinya memotong sungai Kalimas. Dan seperti Dolaners ketahui, sungai Kalimas terkenal dengan Jembatan Merah-nya. Cerita kehidupan di Kembang Jepun dimulai jauh dimasa kerajaan Sriwijaya. Kawasan ini telah menjadi lokasi hilir mudik banyak orang, dari berbagai bangsa, pada masa Sriwijaya. Pada masa Belanda, Kembang Jepun menjadi pembatas pemukiman Cina di sebelah selatan sungai Kalimas dan kampung Melayu-Arab di sisi utara sungai, sementara orang-orang Belanda sendiri berkumpul di bagian barat sungai. Pada masa Belanda ini, nama yang diberikan adalah Handelstraat yang berarti Jalan Perdagangan. Kemudian, pada masa pendudukan Inggris, Daendels mendirikan pusat pemerintahannya di sekitar Jembatan Merah. Itulah kenapa, Kembang Jepun sekarang punya kantor-kantor pemerintah dan perbankan selain sederet toko alat kantor, mesin, tekstil, dan lain-lain.

Nama Kembang Jepun sendiri muncul dimasa pendudukan Jepang. Para serdadu Jepang atau Jepun punya banyak teman wanita, yang bisa diistilahkan kembang, di kawasan perdagangan ini. Pasang surut dialami kawasan Kembang Jepun, hingga akhirnya pada tahun 2003 kawasan ini resmi bernama Kya-Kya. Hingga kini, kawasan yang panjangnya tak sampai 1km ini dimalam hari penuh dengan 200 pedagang, 2.000 kuris, dan 500 meja makan. Sementara itu, disiang hari, Kembang Jepun adalah pusat perdagangan grosir Kota Surabaya.


AKTIVITAS

Kuliner
Akomodasi
Kegiatan
Tips BerwisataAkses Transportasi
Bila menginginkan lebih dari jalan-jalan kuliner di Kembang Jepun, Dolaners bisa memeriksa jadwal pementasan budaya yang kerap diadakan di sini. Pementasan budaya ini bisa jadi berupa festival ngamen, pementasan musik keroncong, pementasan musik klasik Tiongkok, barongsai anak, tari Ngremo bocah, atau yang lain-lain. Pada saat-saat tertentu digelar acara tematik juga, misalnya Dancing on the Street, Shanghai Night, Festival Bulan Purnama, Mystical Night, Agoestoesan Tjap Kya-Kya Kembang Djepoen, dan lain-lain.
Bila Dolaners berencana untuk berlama-lama di kawasan Kembang Jepun, sebaiknya datang ke lokasi dengan menggunakan angkutan umum. Ya… kecuali Dolaners tak masalah bila harus membayar biaya parkir lebih karena kawasan Kembang Jepun masuk zona parkir progresif Kota Surabaya. Kalau menggunakan bus kota, Dolaners bisa menumpang bus A, R2, atau JMK.

STAY UPDATES!

Dapatkan informasi wisata terlengkap dan terupdate di Instagram Anda
FOLLOW US
ID @dolandolen
close-link