Masjid Pakualaman Girigondo

166 views

Apa yang terasa saat Dolaners memasuki sebuah bangunan kuno? Teristimewanya, bangunan ibadah yang dibangun sejak awal abad ke-20. Menilik keunikan bangunannya yang klasik akan menyibak perjalanan sejarah yang telah dilewatinya, sedangkan menikmati ketenangan tempat ibadah ini akan menghadirkan kesejukan kalbu yang berbeda. Dolaners bisa tebak bangunan ibadah apa ini? Iya, Masjid Pakualaman Girigondo di Kulon Progo, Yogyakarta.

Masjid Pakualaman Girigondo, Masjid Pakualaman Girigondo Yogyakarta, Yogyakarta, Dolan Dolen, Dolaners

photo by agriaryoko

Masjid Pakualaman Girigondo dikenal juga dengan nama Masjid Puro Pakualaman atau Masjid Girigondo. Didirikan sekitar awal tahun 1900an, masjid ini dibangun untuk menampung sekitar 200 jamaah. Dahulunya, masjid ini masih menjadi bagian dari balai desa yang menaungi semua kegiatan pemerintahan desa, termasuk fungsi Kantor Urusan Agama atau penewu yang setara dengan asisten wedana atau camat.

Saat ini, luas bangunan Masjid Pakualaman Girigondo mencapai 450 meter persegi, di atas sebuah lahan seluas 5.000 meter persegi. Ciri khas bangunan klasik Masjid Pakualaman Girigondo yaitu soko guru, berupa empat tiang di bawah atap joglo yang konon menjadi peninggalan Wali Songo. Tiang-tiang ini terbuat dari kayu jati yang masih dipertahankan hingga kini. Detail Masjid Pakualaman Girigondo, terutama corak dan bentuknya, juga masih dipertahankan meskipun bangunan ini telah melalui renovasi berkali-kali.

Ciri khas yang sangat kentara pada Masjid Pakualaman Girigondo yaitu logo atau lambang Pakualaman pada bagian depan bangunan.Lambang Pakualaman di bangunan masjid ini berwarna hijau dan kuning keemasan, dengan sebuah mahkota kecil pada bagian atas, serta aksara Jawa yang berarti sembilan. Konon, angka ini berarti bahwa kadipaten Pakualaman sekarang dipimpin oleh KGPAA Paku Alam IX.

Barangkali, keunikan detail bangunan yang kurang menunjukkan ciri budaya terdapat pada bagian mihrab. Ruang imam ini tertutup, yang dulunya dirancang demikian guna mengantisipasi serangan Belanda pada masa perang kemerdekaan. Memang bukan ciri budaya, tapi detail ini tetap menyimpan sejarah perjalanan Masjid Pakualaman Girigondo.


AKTIVITAS

Kuliner
Akomodasi
Kegiatan
Tips BerwisataAkses Transportasi
Masjid Pakualaman Girigondo berada dalam Kompleks Pemakaman Puro Pakualaman Girigondo, atau lebih dikenal sebagai Astana Girigondo Kulon Progo. Kompleks pemakaman ini menaungi pesarean atau tempat peristirahatan terakhir KGPAA Pakualam V sampai VIII beserta istri. Para kerabat Pakualaman yang hendak berziarah ke makam biasanya shalat dulu di Masjid Pakualaman Girigondo, bila kebetulan sudah masuk waktu shalat, kemudian baru naik ke area pemakaman. Sebelum menjadi kompleks pemakaman seperti Dolaners bisa lihat sekarang, kawasan ini dulunya lebih dikenal sebagai Gunung Keling.
Supaya lebih mudah, dan karena masih berada dalam satu kompleks lokasi, Dolaners bisa mengambil rute menuju Astana Girigondo. Jadi untuk menuju Masjid Pakualaman Girigondo dari arah Kota Yogyakarta, akan lebih mudah bila Dolaners bisa mencapai Jalan Raya Wates – Magelang – Purworejo – Yogyakarta terlebih dahulu. Dari ruas jalan ini, Dolaners masuk ke Jalan Kaliglintung Kidul, belok kanan di Jalan Henri Isnamunizar, kemudian masuk ke Jalan Girigondo, dan area parkir Masjid Pakualaman Girigondo berada di tepi jalan ini. Kalau naik angkutan umum, Dolaners bisa menggunakan bus umum jurusan Wates. Dari terminal Wates, lanjutkan perjalanan dengan naik angkutan umum jurusan Purworejo, turun di Temon Wetan. Dari sini, Dolaners naik ojek sampai tiba di Masjid Pakualaman Girigondo.

STAY UPDATES!

Dapatkan informasi wisata terlengkap dan terupdate di Instagram Anda
FOLLOW US
ID @dolandolen
close-link